Arsip | *Identitasku* RSS feed for this section

Sebuah “Perayaan”

9 Apr

Bingung mau nulis dari mana. Pas ndengerin hal ini,,hanya mampu terdiam dan benar-benar tertohok,,hoho

Terhanyut akan nasehat-nasehat ummi yang amat sangat menyejukkan…

Astagfirullah…kemana saja diri ini…

*njuk malah curhat,ckckck

 

 

Mari kita mulai^^

 

 

Bismillah…

Ketika kita mulai lelah,,mulai nggrundel disana-sini…

Coba kita tengok kembali yuk…

Sebenarnya niat awal kita tarbiyah apa?

Karena segala sesuatu berawal dari niat. Ketika niat kita lurus, jalan yang akan dilalui pun kan terasa ringan,,namun jika niatan kita belok ke kiri,,hoho..perlu ada yang dipertanyakan. *sembari menasehati diri sendiri

Semua yang terjadi ini berangkat dari semangat, lalu keberanian, dan berani  untuk memperbaiki diri. Sadarkah kita, sahabatku? Bahwa ketiga unsur itu adalah bentuk hidayah Allah yang diperuntukkn untuk kita?

Allah memberikan kita semangat untuk mengenalNya lebih jauh dan Allah mengkaruniakan keberanian dalam jiwamu untuk memperbaiki diri karena Allah sayang kepada kita.

Karena salah satu bentuk kasih sayang Allah adalah sentuhan HIDAYAH.

“Ya Allah selimuti kami dengan hidayahMu dan biarkan kami terus bersyukur agar nikmat ini selalu Engkau tambahkan, naungi kami dengan kasih sayangMu agar diri ini selalu merasa dalam pengawasanMu”

 

Intermezzo bentar^^

Jadi teringat sms tausyiah dari salah satu ikhwah di FULDFK “ada yang tau berapa harga hidayah? Dia bertebaran seperti udara yang siap dihirup setiap waktu. Dia mungkin seperti matahari dan rembulan yang tak henti bercahaya tanpa diminta. Tapi menjaganya sama seperti menjaga nyawa, karena dia lebih mahal dari segunung emas. Ya Allah, tetapkan hidayah ini dalam hati-hati kami”

 

Ya Rabb..izinkan kami untuk selalu bersyukur atas segala hidayah yang Engkau berikan.

Karena sesungguhnya sifat hidayah adalah terberi dan tercabut, bertambah dan berkurang. Semuanya adalah mutlak milik-Mu,, semua suka-suka Engkau Ya Rabbku…

Hamba yang hina ini hanya mampu berharap, agar hidayah itu ditambah. Satu kunci ketika kita ingin ditambahkan hidayah itu,, selalu bersyukurlah…bersyukur atas nikmat Allah… bagaimanakah kita mengekspresikan rasa syukur itu? Rayakanlah, sahabatku…

Rayakan bentuk syukur kita dengan cara memperjuangkan dienNya,,menebarkan keindahan agamaNya…

Kebaikan adalah bentuk hidayah Allah…

Dan merayakannya adalah kontribusi kita kepada dakwah

Ada energi tersendiri ketika “merayakannya”,,kesyukuran^^

Selalu mensyukuri atas hidayah yang Allah berikan.

 

“Ada dijalan dakwah ini bukanlah suatu pengorbanan tetapi bentuk kesyukuran kita”

 

 

Hidayah jika dibingkai dengan kesyukuran akan menghasilkan suatu energi yang luar biasa,,maka…

Rasakan hidayah itu

Syukuri hidayah itu

Pastikan kita dekat dengan pemberi hidayah itu,,

Lalu…

Tebarkan hidayah itu

Ketika Allah memilih kita maka yakinlah bahwa kita siap menjalankannya

Syukuri ketika Allah memberikan cobaan kepada kita,,karena kita diminta untuk meneguhkan persaksian kita

Karena keberadaan kita tidaklah kebetulan

Mujahidah kecilku^^

2 Jan

Kangen rasanya jika satu pekan tidak bertemu,, alhamdulillah Allah memberikan waktu kepada kita untuk bertemu dalam satu pekan yang begitu padat dengan agenda-agenda akademik yang melelahkan. Buatlah forum ini adalah transfer energi kita setelah sekian waktu sibuk dengan rutinitas yang cukup menguras energi. Kita adalah satu tubuh…jika yang satu sakit,yang lain pun akan merasakannya… indahnya persaudaraan karena ikatan aqidah^^,, qta bukanlah golongan malaikat yang bersih tanpa dosa,,disini kita adalah sekelompok orang yang ingin bersama-sama memperbaiki diri,, saling mengingatkan,, saling menopang ketika sedikit mulai goyah,, saling memberikan cinta dan kasihnya… jiwa ini menyatu dalam satu tujuan yaitu ALLAH…

Aku hanya ingin ia menjadi sosok yang tangguh…sosok yang kuat…sosok yang mampu memberikan cahaya dalam kegelapan…sosok yang kuat seperti karang di lautan…sosok yang selalu tegar ketika cobaan datang…sosok-sosok yang bisa menjadi teladan untuk yang lainnya… yach..itulah harapan seorang hamba Allah… tetapi sekali lagi perlu kusadari…kewajibanku hanyalah menyampaikan,,hidayah itu milik Allah… itu hanyalah sebuah harap…

Tidak mudah memang memilih jalan dakwah ini, dibutuhkan komitmen dan keistiqomahan. Tak usah takut bahwa kita tidak bisa diterima di tempat lain. Asalkan kita punya komitmen dengan syariat yang kita bawa, InsyaAllah lingkungan apapun akan  menerima kita. Bingkailah syariat itu se-flexibel mungkin, karena memang Islam itu tidak mempersulit.

Sudah ku buktikan,, dengan jilbab yang katanya orang dibilang lebar,,aku yang tak mau bersentuhan dengan lawan jenis,,aku yang tak mau berkhalwat dengan lawan jenis,, tetapi alhamdulillah…aku bisa di terima di semua kalangan. Dari anak masjid, anak gank, anak band, model…semuanya bisa menerimaku. Tak jarang mereka menjadikanku tempat curhatnya,,alhamdulillah mereka bisa menerima kondisiku dan kita pun dekat… berikanlah cinta yang tulus… karena memang disinilah seni dari seorang aktivis… tidak boleh ada di lingkungan yang “save” saja… lingkungan yang lain juga butuh sentuhan jiwamu…

begitulah dakwah.. jalannya panjang dan berliku, tantangannya banyak, penuh onak dan duri, dan hanya dipikul oleh sedikit orang.. maka ia terasa berat..
lalu apakah kita termasuk orang2 yg sedikit itu atau hanya menjadi seperti buih di lautan?

Semoga mereka akan menjadi penerus estafet dakwah selanjutnya,amin^^

ADIKKU SAYANG…

13 Jul

Walau baru mengenalmu beberapa jam,beberapa hari,beberapa minggu..

Tapi rasanya mba sudah mengganggapmu seperti adik mba sendiri

Pertemuan yang singkat dan obrolan yang lumayan “dalem”

Setidaknya  sudah membuat mba mengenal dirimu,adikku…

mungkin sebenarnya kita sudah sering berjumpa

tapi baru sempet ngobrol  kemarin waktu kamu bermalam di tempat mba

Kadang mba sesali kenapa baru akhir2 ini  mengenalmu,adikku..

Padahal hampir  tiap pekan mba ke smada

Jujur aja…mba baru mengenal dan tau namamu saat kemarin itu, sebelum kamu SNMPTN

Sudahlah….

Tuk apa sesal yang tak ada arti…

Tadi siang…

Saat buka fb…

Jujur aja…

Mba kaget…

Sakit hati ini rasanya…

Menangis…pedih…

Melihat perubahanmu…

Ada apa adikku?

Apa yang membuat keteguhanmu goyah?

Apa yang membuatmu berani melepas identitasmu,sayang?

Dimana adik yang mb kenal selama ini?

Dimana sosok yang kuat itu?

Adikku Sayang…

Waktu itu kita pernah ngobrol, kamu pernah bilang tidak akan melepaskannya walo dalam kondisi apapun.

Waktu itu kamu pernah cerita banyak hal tentang pertahananmu untuk terus mengenakannya.

Kamu cerita tentang keluargamu yang belum memberikan dukungan tentang jilbab yang kamu kenakan.

Tapi kamu tetap mempertahankannya…

Adikku…ada apa dengan dirimu?

Mba ingat sekali waktu kamu masuk kamar mba dan bilang ingin sekali mengenakan jilbab seperti yang mba kenakan…

Waktu itu kamu  pinjam jilbab mb,,dan kamu kenakan itu…

Cantik, adikku…

Anggun sekali dirimu mengenakan mahkota itu…

Adikku…

Mba mengerti kamu sudah tau bagaimana jilbab itu,,

Mba yakin kamu sudah tau banyak tentang jilbab…

Filosofi  jilbab bukan hanya sehelai kain,sayang…

Mba rindu adik yang mba kenal…

Rindu sekali…

Semoga adik mba kembali lagi

Kembali dengan mahkota indahnya^^

Amin….

AKU BISA

8 Jun

Untuk Saudariku yang tercinta karena Allah…

AKU BISA!!!

Sedikit ingin berbagi cerita,,cerita ini diambil dari pengalaman pribadi berbagai macam orang yang kutemui.

Sengaja aku berikan judul ”AKU BISA” karena dari perjuangan panjang ini kita berhasil meyakinkan orang terdekat kita (ibunda tercinta.red) bahwa tidak akan terjadi apa-apa ketika anak yang ia sayangi berubah (maksudnya perubahan yang positif).

Start… 🙂

Awalnya Hanya Iseng (Astagfirullah…)

Jadi begini ceritanya….

Sebut saja pelaku utamanya dengan nama dhea.

Dulu sewaktu Dhea masuk SMA tahun 2004, sebenarnya Dhea gak mau pake jilbab. Panaslah, ribetlah, pakenya lamalah,macem-macem alasannya (maklum dulu pemahaman agamanya masih sangat minim, lagipula tidak begitu didukung ma bunda. Bunda takut kalau Dhea pake jilbab cuma lepas-pake).

Nah…pas ngukur2 bikin seragam tu aturan roknya harus dibawah lutut 15cm. Waduw gak kebayang tu bentuk Dhea jadinya kayak apa…(hiks..hiks…). Alhasil Dhea putuskan buat rok panjang aja sekalian, kepepetnya kalo sekolah pake krudung dech…(skali lagi astagfirullah….).

Berawal dari situ pake jilbabnya, sebenernya waktu SMP udah pake jilbab tapi Cuma disekolah aja,hehe…emang nakal. Truz waktu SMA sebenarnya Cuma pengen pake jilbab di sekolah aja tapi pas MOS tu kan disuruh ngerjain tugas bareng (harus sama 1 kelas), nah Dhea kira temen2 ada yang lepas krudung, eh ternyata diluar temen2 pada pake,,dalam hati Dhea…”untung pas aku pake jilbab juga,hehe”. Kalo gak kan malu baru awal kenal udah ketahuan nakalnya (sok jaim…).

Semenjak itu Dhea jadi malu…masak aku sendiri yang lepas jilbab, jadinya dengan penuh kepepet Dhea pake terus tapi belum ikhlas sepenuh hati ya masih nakal gitulah…

Gara-gara ikut pengajian

Sebenarnya pengajian itu diadain buat siswa baru yang mau ikut rohis. Awalnya skali lagi Cuma iseng ikut rohis coz di SMP gak ada (maklum SMP ndeso). Nah..pas pengajian pertama itu….materinya tentang apa coba…. “JILBAB” kawand….

Mba2nya yang jilbaber itu pelan-pelan menyampaikan materi tentang jilbab. Materi yang disampaikan begitu lembut dan benar-benar merasuk dihati. Beliau-beliau mengatakan kalo orang yang gak pakai jilbab itu diibaratkan kayak bunga ditepi jalan yang bebas di liat, dipegang, mudah kotor,pokokna de el el dech… nah sedangkan yang pake jilbab itu diibaratkan bunga yang dibungkus dan pastilah tidak mudah kotor, tidak semua orang bebas memegangnya, benar-benar terjaga kesuciannya. Subhanalllah… siapa siy yang gak mau terjaga kayak gitu..???

Trus lagi mbanya juga bilang kalau sehelai saja rambut kita terlihat maka sama aja membangun satu batu bata di neraka trus mbanya juga cerita tentang kewajiban muslimah menutup krudung berdasarkan Al-Qur’an gitu…

Q.S. An-Nur ayat 31

”…. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya dan jangan menampakkan perhiasannya (auratnya)…..”

Pengajian pertama Dhea begitu mengesan smpai2 diakhir acara itu Dhea menangis dan mba2 disana menenangkannya. Semenjak saat itu Dhea benar-benar mengenakan jilbabnya…

Special Moment

Karena manyampaikan dengan hati maka akan sampai ke hati juga

19 Agustus 2004

Masjid Ash Shiddiq Tercinta

Tempat dan saksi bisu tempat Dhea berani menjemput hidayah untuk mengenakan jilbab

Jazzkillah khairan khatsiran buat mba2 KHARISMA 2005,luph u cz Allah 🙂

Masa-masa awal pake jilbab

Ternyata kalo niatnya ikhlas karena Allah gak kerasa panas, gak ribet juga, malah adem tu… pernah suatu siang temen2 Dhea kepanasan tapi dengan jilbab yang ia kenakan dengan benar ini (syar’i.red)  malah ngerasa adem dan nyaman2 aja sampai temen2 terheran-heran melihat kok tenang2 aja dengan udara yang lumayan panas.

Mulai sedikit berubah

Dhea lama kelamaan atau sedikit demi sedikit mulai memanjangkan jilbabnya. Tambah nyaman,sist… Dhea seneng aja dengan kondisinya sekarang. Nah semenjak saat itu Dhea mulai merubah penampilannya. Jilbabnya mulai sedikit lebar, pake rok, yach identik dengan akhwat gitulah..

Tantenya ngira emang disekolah suruh kayak gitu jadi ya Dhea dibeliin jilbab yang lebar2 gitu (awal Dhea dijogja tinggal ma tante jadi ya apa2 tante).

Seneng banget rasanya…jadi berpikir…”kemana ya aku selama ini?kok baru bisa menikmati indahnya islam,indanya berhijab dengan benar”

Bunda + keluarga besar menentangku,hiks…hiks…

Waktu itu Dhea pulang kerumah dengan kostum barunya. Jilbabnya lumayan gedhe gitu trus pake rok (roknya bunda yang tak pinjem cz belum punya rok,hehe..), pake deker gitu…bajunya panjang…pokokna penampilan akhwat gitu dech…+ pake jaket. Waktu Dhea ngelepas jaket didepan bunda. Beliau kaget!!! ”kok pakaiannya kayak emak-emak gini? LEPAS!!!!”, waduw galak euy… disitu ada tante Dhea yang baru pulang dari jakarta,eh ikutan nimbrung… ”mba (bilang ke bunda) ati2 lho takutnya ikut aliran sesat,jilbabnya gedhe2 gitu” (cz 2 tante Dhea itu pernah menimba ilmu di jogja juga jadi beliau sedikit ngertilah kengerian dijogja). Trus tante Dhea ngomong lagi ”dari pada gedhe2 gitu + dikira ikut aliran apa, mending dilepas aja…!!! kamu ni nakutin!!!”. kaget, pengen nangis rasanya ”Ya Allah begitu berat cobaan ini”. Tapi alhamdulillah bunda berhasil menenangkanku ”besok jilbabnya yang biasa aja ya….”.

Dhea ngerti kondisi keluarga kayak apa ngliat perubahanmya yang bisa dibilang drastis, anak yang dulunya nakal jadi bentuknya kayak gini,hihi.

Sedih banget rasanya,bayangkan aja gimana kondisi Dhea yang lagi semangat-semangatnya pakai jilbab digituin!!!

Tapi alhamdulillah bunda ngerti perubahan Dhea….waktu itu aja Dhea langsung dibawa ke penjahit buat bikin rok. Eits…tunggu dulu…tapi bunda tetep gak setuju jilbab Dhea kayak emak-emak. Dalam hati…pelan2 memahamkan bunda. Setidaknya bunda ngerti perubahanku kayak gimana.

Perjuangan demi perjuangan untuk sehelai kain

Ternyata tidak Dhea saja yang sperti itu. Sesampai di jogja Dhea sharing ma mba-mbanya, ternyata eh ternyata mba-mba jilbabaer punya kasus yang sama.

Ada yang kalo pulang kekampung halaman setelah nyampai di terminal,ganti kostum kayak biasanya tapi tetep pakai jilbab lho… itu butuh waktu yang gak sebentar buat memahamkan orang rumah. Bener2 umpet-umpetan mbanya itu. Sampai suatu saat akhirnya keluarganya menerima perubahan mbanya itu. Biar diterima keluarganya, perjuangan mbanya amat sangat panjang. Beliau ingin menunjukkan kalo dia berubah ke arah yang positif. Terbukti guys…beliau dapet beasiswa (gratis kuliah 4 tahun di UGM) trus sekarang lagi dapet beasiswa 1 tahun di Jepang. Subhanallah…perjuangan akhwat untuk mempertahankan jilbabnya yang lebar.

Ada juga yang selalu disindir kalo lagi nyetrika. ”Mba lagi nyetrika taplak ya…gedhe bangeett?”. hampir tiap hari beliau digituin dirumah. Tapi beliau tetap pada pendiriannya untuk mengenakan jilbabnya yang lebar. Pelan-pelan beliau pahamkan orang tuanya, dengan menunjukkan perubahan diri yang positif. Akhirnya orang rumah bisa menerima perubahan beliau. Bahkan sekarang ibunda beliau kalau membelikan jilbab yang gedhe2. Happy ending…

Ada juga yang dibilang pake jilbab gedhe ntar gak modis lho… tergantung kita makenya gimana. Banyak kq sekarang variasinya. Warnanya bervariasi. Gimana masih takut dibilang gak modis?

Ada juga yang pake jilbab gedhe dibilang istrinya Noordin M. TOP. Aduw…aduw…banyak banget ya cobaannya. Ya beginilah perjuangan mendapatkan surga-NYA, tidak mudah. Butuh perjuangan ekstra!!!

Masih banyak lagi perjuangan akhwat yang menggunakan jilbab gedhe..

Perjuangan yang tidak mudah dan butuh kesabaran untuk menuai hasil dari perjuangan ini. Kalau engkau tau wahai sahabatku,sampai sekarang ketika aku menuliskan cerita ini masih ada keluarga Dhea yang tak berkenan. Selalu diprotes jika Dhea bertemu dengan beliau. Kadang bundanya pun masih sering terpengaruh dengan kata-kata yang dikeluarkan oleh keluarga besar. Tapi Dhea menghadapinya dengan santai. Dan dari situ Dhea tunjukkan bahwa ini bukan aliran sesat, bukan seperti apa yang mereka bayangkan. Dhea tunjukkan sikap-sikap dan perubahan-perubahan akhlak dan ibadahnya. Dhea tunjukkakn bahwa Dhea seperti muslimah pada umumnya. Alhamdulillah lama-lama keluarga besar menerima dan yang lebih membuatnya lebih bahagia lagi orang tuanya sekarang gak ada yang complaint, bahkan bunda sekarang kalo membelikan jilbab gak yang kecil-kecil lagi malah sekarang bunda juga ikut-ikutan gak mau pake jilbab yang kecil-kecil…alhamdullillah…Begitu indahnya karunia-Mu YA ALLAH…

Allah menolongku melalui perantara teman-teman ngajiku

Waktu itu maret 2009 teman-teman ngaji Dhea main kerumah karena harus menghadiri walimah ursy murobbi. Mereka semua bersembilan, jilbaber semua. Awalnya bunda kaget cz pas turun buat makan kayak mau pergi aja…pake kaos kakilah,pakai dekerlah…tau sendirilah akhwat kayak apa. Trus bunda tanya ”kok pada pakai kaos kaki?”, trus Dhea jelasin ”kan kaki juga aurat,bun jadi harus ditutup juga”. Bunda mengangguk-angguk tanda mengerti.

Dari situ bunda mengerti kalau anaknya tidak sendiri, masih banyak teman-temannya yang sejenis ma anaknya ini.

Semenjak itu aku merasakan perubahan bunda.

Butuh Kesabaran

Sabar dan harus banyak bersabar. Yakinlah akan pertolongan Allah ketika kita menolong agama-Nya. Allah tidak akan menimpakan sesuatu diluar kemampuan hamban-Nya. Ketika kita mulai futur maka mendekatlah dengan teman-teman yang sholeh. Saling mengingatkan antar saudara dan saling menguatkan!!! Janganlah merasa sendiri karena kita adalah satu!!! Satu dalam naungan ISLAM

Ya Allah….

Terimakasih atas apa yang engkau berikan…

Nikmat ini begitu indah…

TAK ADA YANG LEBIH INDAH SELAIN ADA DIJALAN-MU

Ya Allah…

Jagalah hamba, naungi hamba dengan rahmat-Mu

Agar hamba kuat dalam memperjuangkan agama-Mu

Kuatkan pundak ini Ya Rabb…

Demi kebahagiaan sejati…

JANNAH

Yogyakarta, 3-4 Desember 2009

23.00-01.16

Dari Yang Menyayangimu Karena Allah

Annisa…

19 Sep

Aku Malu Menjadi Wanita

“ Wanita itu ibarat buku yang dijual di toko buku. ” Kata Ukhti Liana, mentor rohaniku ketika SMA.

Ia melanjutkan ceritanya “Begini asosiasinya.. di suatu toko buku, banyak pengunjung yang datang untuk melihat-lihat buku. Tiap pengunjung memiliki kesukaan yang berbeda-beda. Karena itulah para pengunjung tersebar merata di seluruh sudut ruangan toko buku. Ia akan tertarik untuk membeli buku apabila ia rasa buku itu bagus, sekalipun ia hanya membaca sinopsis ataupun referensi buku tersebut. Bagi pengunjung yang berjiwa pembeli sejati, maka buku tersebut akan ia beli. Tentu ia memilih buku yang bersampul, karena masih baru dan terjaga. Transaksi di kasirpun segera terjadi. ”

“iya, terus kak..?” kataku dan teman-teman, dibuat penasaran olehnya.
“Nah, bagi pengunjung yang tidak berjiwa pembeli sejati, maka buku yang ia rasa menarik, bukannya ia beli, justru ia mencari buku dengan judul sama tapi yang tidak bersampul. Kenapa? Kerena untuk ia dibaca saat itu juga. Akibatnya, buku itu ada yang terlipat, kusam, ternoda oleh coretan, sobek, baik sedikit ataupun banyak. Bisa jadi buku yang tidak tersampul itu dibaca tidak oleh seorang saja. Tapi mungkin berkali-kali, dengan pengunjung yang berbeda tetapi berjiwa sama, yaitu bukan pembeli sejati alias pengunjung iseng yang tidak bertanggung jawab. Lama kelamaan, kasianlah buku itu, makin kusam hingga banyak yang enggan untuk membelinya” Cerita ukhti Liana.

“Wanita itu ibarat buku. Jika ia tersampul dengan jilbab, maka itu adalah ikhtiar untuk menjaga akhlaknya. Lebih-lebih kalau jilbab itu tak hanya untuk tampilannya saja, tapi juga menjilbabkan hati.. Subhanallah..!
Pengunjung yang membeli adalah ibarat suami, laki-laki yang telah Allah siapkan untuk mendampinginya menggenapkan ½ dienNya. Dengan gagah berani dan tanggung jawab yang tinggi, ia bersedia membeli buku itu dengan transaksi di kasir yang diibaratkan pernikahan. Bedanya, Pengunjung yang iseng, yang tidak berniat membeli, ibarat laki-laki yang kalau zaman sekarang bisa dikatakan suka pacaran. Menguak-nguak kepribadian dan kehidupan sang wanita hingga terkadang membuatnya tersakiti, merintih dengan tangisan, hingga yang paling fatal adalah ternodai dengan free-sex. Padahal tidak semua toko buku berani menjual buku-bukunya dengan fasilitas buku tersampul. Maka, tentulah toko buku itu adalah toko buku pilihan. Ia ibarat lingkungan, yang jika lingkungan itu baik maka baik pula apa-apa yang ada didalamnya. ” kata ukhti Liana.
“wah, kalau begitu jadi wanita harus hati-hati ya..!. ” celetuk salah satu temanku.

“Hmm, .apakah apapun di dunia ini bakal dapet yang seimbang ya, kak? Kayak itu deh, buku yang tersampul dibeli oleh pembeli yang bertanggung jawab. Itukan perumpamaan Wanita yang baik dan terjaga akhlaknya juga dapat laki-laki yang baik, bahkan insyallah mapan, sholeh, pokoknya yang baik-baik juga. Gitu ya, kak?” kata temanku.
“ Benar, Seperti janji Allah SWT, “Wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanit yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (An-Nur:26). Dan, hanya Allah yang tak menyalahi janji. ” penjelasan ukhti Liana.
***

Empat tahun berselang.. diskusi itu masih mengena dihatiku. Hingga pada suatu malam, pada suatu muhasabah menyambut usia yang bertambah, “Pff, Ya Allah… Tahu begini, Aku malu jadi wanita. ” bisikku.
Menjadi wanita adalah amanah. Bukan amanah yang sementara. Tapi amanah sepanjang usia ini ada. Pun menjadi wanita baik itu tak mudah. Butuh iman dan ilmu kehidupan yang seiring dengan pengalaman.
Benar. Menjadi wanita adalah pilihan. Bukan aku yang memilihnya, tapi Kau yang memilihkannya untukku. Aku tahu, Allah penggenggam segala ilmu. Sebelum Ia ciptakan aku, Ia pasti punya pertimbangan khusus, hingga akhirnya saat kulahir kedunia, Ia menjadikanku wanita. Aku sadar, tidak main-main Allah mengamanahkan ini padaku. Karena kutahu, wanita adalah makhluk yang luar biasa. Yang dari rahimnya bisa terlahir manusia semulia Rasulullah atau manusia sehina Fir’aun.
Kalau banyak orang lain merasa bangga menjadi wanita, karena wanita layak dipuja, karena wanita cantik memesona, karena wanita bisa dibeli dengan harta, karena wanita cukup menggoda, dan lain sebagainya, maka justru sebaliknya, dengan lantang aku berkata.. “aku malu menjadi wanita!”

Ya, Aku malu menjadi wanita, kalau faktanya wanita itu gampang diiming-iminggi harta dengan mengorbankan harga dirinya. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita itu sebagai sumber maksiat, memikat, hingga mengajak pada jalan sesat. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata dari pandangan dan suara wanita yang tak terjaga sanggup memunculkan syahwat. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata tindak tanduk wanita sanggup membuahkan angan-angan bagi pria. Aku malu menjadi wanita kalau ternyata wanita tak sanggup jadi ibu yang bijak bagi anaknya dan separuh hati mendampingi perjuangan suaminya.
Sungguh, aku malu menjadi wanita yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Ya, Aku malu jika sekarang aku belum menjadi sosok wanita yang seperti Allah harapkan. dan Fatimah, wanita itu makhluk yang luar biasa, penerus kehidupan. Dari kelembutan hatinya, ia sanggup menguak gelapnya dunia, menyinari dengan cinta. Dari kesholehannya akhlaknya, ia sanggup menjaga dunia dari generasi-generasi hina dengan mengajarkannya ilmu dan agama. Dari kesabaran pekertinya, ia sanggup mewarnai kehidupan dunia, hingga perjuangan itu terus ada.
Allah, maafkan aku akan kedangkalan ilmuku dan rendahnya tekadku. Aku berlindung pada-Mu dari diriku sendiri. Bantu aku Rabb, untuk tak lagi menghadirkan kelemahan-kelemahan diri saat aku ada di dunia-Mu. Hingga kelak aku akan temui-Mu dalam kebaikan akhlak yang kuusahakan. Ya, wanita sholehah..”

-Oleh Meralda Nindyasti-

WANITA MUSLIMAH LUAR BIASA……!!!!!

19 Sep


LUAR BIASA! BETAPA BERHARGA MENJADI SEORANG WANITA MUSLIMAH
Kaum feminis bilang, susah jadi wanita dalam islam, lihat saja peraturan dibawah ini:

* Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.

* Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.

* Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.

* Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.

* Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.

* Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.

* Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.

* Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.

Itu sebabnya mereka tidak henti-hentinya berpromosi untuk “MEMERDEKAKAN WANITA”.
Pernahkah kita lihat kenyataannya ?

* Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan? Itulah bandingannya dengan seorang wanita.

* Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya?

* Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan, ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.

* Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia mati karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.

* Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabk an terhadap! 4 wanita, yaitu : Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.

* Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu: sembahyang 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.

* Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

Masya ALLAH ! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita Ingat firman Nya, bahwa mereka tidak akan berhenti melakukan segala upaya, sampai Kita ikut / tunduk kepada cara-cara / peraturan buatan mereka. (emansipasi Ala western)

Yakinlah, bahwa sebagai Dzat yang Maha Pencipta, yang menciptakan kita, maka sudah pasti Ia yang Maha Tahu akan manusia, sehingga segala Hukumnya / peraturannya, adalah YANG TERBAIK bagi manusia dibandingkan dengan segala peraturan/hukum buatan manusia.

Jagalah isterimu karena dia perhiasan, pakaian dan ladangmu, sebagaimana Rasulullah pernah mengajarkan agar kita (kaum lelaki) berbuat baik selalu (gently) terhadap isterimu.

Adalah sabda Rasulullah bahwa ketika kita memiliki dua atau lebih anak perempuan, mampu menjaga dan mengantarkannya menjadi muslimah Yang baik, maka surga adalah jaminannya. (untuk anak laki2 berlaku kaidah yang berbeda).

Berbahagialah wahai para muslimah. Jangan risau hanya untuk apresiasi absurd dan semu di dunia ini. Tunaikan dan tegakkan kewajiban agamamu, niscaya surga menantimu.

Dikutip dari Grup WANITA MUSLIMAH LUAR BIASA